Selasa, 19 Januari 2010

what is Garuda Pancasila

The Garuda Pancasila is the coat of arms of Indonesia. The main part of the coat of arms is the Garuda with a shield on its chest and a scroll gripped by its leg. The shield's five emblems represent Pancasila, the five principles of Indonesia's national philosophy. Garuda Pancasila was designed by Sultan Hamid II of Pontianak, and was adopted as national coat of arms on 1 February 1950.


GARUDA
The Garuda is the mythical golden eagle, common to both Hindu and Buddhist mythology. The Garuda was a chimera, having the wings, beak, and feet of the golden eagle, but a man's arms and trunk. The Garuda is commonly used as an emblem in South and Southeast Asian nations. The use of the Garuda in Indonesia's coat-of-arms invokes the pre-colonial Hindu kingdoms that spanned across the archipelago, from which the present-day Republic of Indonesia is understood to be descended.

However, unlike the traditional anthropomorphic form of Garuda as featured in ancient temples in Java, the Balinese Garuda, or in national emblem of Thailand, the design of Indonesia's Garuda Pancasila is rendered in modern naturalism one. The design of Garuda Pancasila was inspired by the Javan Hawk-eagle (Spizaetus bartelsi), endangered raptor endemic to the mountainous forest regions in the island of Java. The Javan Hawk-eagle identification featured in Garuda Pancasila especially the feather crest crowning its head, and dark-brownish to chestnut-gold colouring. Because of this, the Javan Hawk-eagle is considered as the national bird of Indonesia[1].

As for the coat of arms, the Garuda symbolizes strength and power, while the gold colour symbolizes greatness and glory.

The feathers on the Garuda of the Indonesian coat-of-arms are arranged so that they invoke the date of 17 August 1945, the officially recognized Indonesian Day of Independence. There are 17 feathers on each wing, 8 on the tail, 19 on the base of the tail (below the shield), 45 on the neck, corresponding to the "17/8/1945" international date format for Independence.

Shield

The shield is a martial symbol, standing for defense of the country. It is divided into five sections: a background divided into quarters, colored red and white (the colors of the national flag) in a checkerboard pattern; and a smaller, concentric shield, black in background. A thick, black line lies horizontally across the shield, symbolizing the equator which passes through the Indonesian archipelago.

Emblems

Each section of the shield has a symbol corresponding to the Pancasila principles laid down by its founder, President Sukarno.

The Star

The black shield bearing the golden star at center corresponds to the first Pancasila principle, belief in one God. The color black represent the color of nature. Upon this shield at center is a golden, five-pointed star. This is a symbol common not only among Indonesia's sanctioned faiths of Islam, Christianity, Hinduism and Buddhism, but of the secular ideology of socialism as well[2].

This tenet of Pancasila has always been controversial, for it suggests compulsory religious belief as well as compulsory monotheism. Supporters of Sukarno's legacy, however, believe that this tenet was meant to unify Indonesia's population, who have diverse faiths and beliefs.

The Chain

In the bottom right quarter, on a red background, is a chain made up of square and round links. This chain represents successive human generations, with the round links representing women and the square links representing men. The chain corresponds to the second principle of the Pancasila, of belief in a commonly bound humanity.

The Tree

At the upper right quarter, on a white background, is the banyan tree (Indonesian, beringin). This symbol corresponds to the third Pancasila principle, the unity of Indonesia. The banyan is known for having expansive above-ground roots and branches. The Republic of Indonesia, as an ideal conceived by Sukarno and the Nationalists, is one country out of many far-flung cultural roots.

The Bull

In the upper left quarter, on a red background, is the head of the Javanese wild bull, the banteng. This represents the fourth principle of Pancasila, democracy by deliberation and consensus among representatives. The banteng is a social animal, so too is humanity, and decisions must be made collectively. The banteng was also adopted as a symbol of Sukarno's Nationalists, and later by his daughter Megawati Sukarnoputri's Indonesia Democratic Party of Struggle.

Rice and Cotton

In the lower left quarter, on a white background, are a gold-and-white paddy and cotton. These represent the fifth Pancasila principle of social justice. The rice and cotton represent sustenance and livelihood.

Jumat, 01 Januari 2010

Perayaan Tahun Baru Masehi

Tahun baru 2010 Masehi tinggal satu hari lagi. Yang namanya terompet dan mercon sudah mulai terdengar di mana-mana. Beberapa tempat termasuk mall, jalan-jalan, kampung-kampung dan kantor pemerintah sudah mulai menghias diri dengan pernik-pernik tahun baru. Bahkan ada juga yang sudah mempersiapkan banyak makanan, minuman bahkan acara special khusus tahun baru. Parahnya, ada juga yang punya ritual khusus di malam tahun baru yaitu mandi kembang tepat tengah malam. Hiii….gak takut masuk angin apa?


Banyak banget hal-hal gak bener yang berkembang di tengah masyarakat berkaitan dengan tahun baru. Sudahlah tahun baru Masehi sendiri bukan termasuk bagian dari Islam, perayaannya sendiri malah cenderung ke arah maksiat. Gak ada satu pun hal yang bisa diambil hikmah kebaikannya dari perayaan tahun baru Masehi ini.

Trus, bagaimana dengan mengucapkan selamat tahun baru? Tahun baru yang diperingati setiap 1 Januari itu sebenarnya juga bukan tahun baru Islam sama sekali. 1 Januari adalah tahun baru Masehi yang dihitung mulai dari kelahiran Mesias yang disebut juga Masehi. Nah, lho ternyata tahun baru 1 Januari ini tak terlepas dari budaya Kristen yang notabene tak ada ajarannya dalam Islam. Yang namanya ucapan ‘selamat tahun baru’ pada 1 Januari, pasti sebelumnya ada embel-embel ‘ucapan selamat natal’. Tak usah latah dengan mengucapkan ‘selamat tahun baru’ baik kepada temanmu yang Kristiani ataupun yang muslim.

Saya paling malas menerima ucapan selamat ataupun salaman dari teman yang sekadar mengucapkan selamat tahun baru 1 Masehi. Saya jawab dengan tegas, “Maaf, saya tak merayakan tahun baru Masehi.” Kadang ada teman yang ngeyel dan sinis mengatakan bahwa toh mau tak mau kita tetap memakai penanggalan Masehi untuk semua urusan. Oke, memang kita memakai penanggalan Masehi tersebut yang dimulai dari Januari hingga Desember, tapi itu bukan berarti kita juga dengan seenaknya bisa mengadopsi perayaan kaum Masehi itu yang penuh dengan kejahiliyahan.

Hey…kesepakatan menggunakan penanggalan Masehi itu masalah siapa yang berkuasa dan siapa yang dikuasai aja kok. Karena Amerika cs yang dibekingi Kapitalis saat ini berkuasa, gak heran kalo kalender Masehi yang dibikin semarak perayaannya. Begitu sebaliknya, bila satu ketika nanti Islam berjaya kembali seperti sebelumnya ketika Khilafah Islam belum runtuh, maka so pasti kalender Hijriah pasti dijadikan standard penanggalan internasional. Hal ini sudah terbuktikan kok sebelumnya ketika kekuasaan Kekhilafahan Islam membentang mulai dari Timur Tengah hingga ke Spanyol dan Bulgaria. Islam menaungi dua per tiga dunia euy. Keren banget kan?

Nah, sekarang ini bukan saatnya kamu membebek di acara-acara or ucapan selamat tahun baru Masehi. Punyai sikap donk! Bila pun 1 Januari dijadikan hari libur nasional dan internasional, let it that way. Biarkan saja begitu tanpa ikut-ikutan latah mengucapkan or merayakan sesuatu yang bukan bagian dari ajaran Islam.

Aneh banget melihat orang-orang berteriak kegirangan dengan menghitung mundur detik menuju pergantian tahun ketika jarum jam berjalan menuju angka 12 malam. Mereka bersorak-sorak, meniup terompet, mercon, minuman-minuman keras, berangkulan dan berpesta maksiat. So, what? Trus mau apa bila detik jarum jam telah melewati angka 12 malam? Toh, kemaksiatan terus berjalan, yang miskin tetep aja miskin, angka busung lapar terus meningkat di saat penjualan rumah mewah semakin laris. Ironis! Inikah yang dirayakan?

Sebagai remaja muslim yang cerdas, enggak penting banget gitu loh bersikap latah dengan ikut perayaan yang gak jelas juntrungannya itu. Bukan hanya perayaannya aja tapi plus gak usah latah juga dengan mengucapkan ‘selamat tahun baru’ hanya karena takut dianggap kuno bila gak ikut mengucapkannya. Kamu harus jadi pelopor di lingkunganmu baik di sekolah maupun di rumah untuk memberikan contoh bahwa tidak semua kebiasaan yang ada itu baik dan boleh dalam Islam. So, berubah mulai detik ini ya. Remaja muslim cerdas pasti bisa. Yakin donk ^_^
[riafariana/voa-islam.com]

Share

Twitter Delicious Facebook Digg Stumbleupon Favorites More